Langsung ke konten utama

Memahami Makna ‘Minta Maaf’



Kata maaf seringkali kita dengar, atau bahkan mungkin malah kita sendiri yang terlalu sering mengucapkankannya. Namun, ketika kata itu keluar dari mulut kita, apakah kita telah memahami esensi dari kata maaf tersebut? Atau jangan-jangan kita hanya sekadar mengucapkannnya saja?

Nggak kerasa ya Ramadhan tahun ini udah berlalu. Nggak kerasa juga kita udah ngelewatin Ramadhan yang memang bener-bener beda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya kita bingung nentuin tempat buat buka bersama temen-temen karena tempat makan udah banyak yang di booking. Namun, di Ramadhan tahun ini kegiatan itu harus kita lakukan via online. Tak ada salahnya juga sih, karena dengan situasi yang seperti ini kita dapat memberikan waktu lebih banyak untuk bersama dengan keluarga. Dari yang sebelumnya kita jarang bertemu karena kesibukan di kantor, sekarang kita malah lebih banyak memiliki Quality time bersama mereka. Bukankah itu merupakan suatu hal berharga?

Pandemik tak kunjung juga berakhir menjelang lebaran. Ternyata kita masih disuruh lebih lama lagi untuk menunggu dalam ketidakpastian. Sampai lebaran tiba, pandemik pun belum juga pergi.  Hal itu membuat kita harus berlebaran bersama pandemik. Rasanya benar-benar sepi, hampa, seperti tidak sedang merayakan hari besar. Tidak ada jabat tangan dengan tetangga, tidak ada cipika cipiki dengan sahabat, tidak ada acara keliling kompleks rumah untuk mengunjungi tetangga yang sudah lansia. Lebaran yang biasanya diwarnai dengan antre sungkem ke ibu lalu berfoto bersama, kini hanya bisa kita lakukan dengan saling bertatap layar di handpone. Sedih sih tahun ini nggak bisa kumpul bareng, tapi ya sudahlah kita ambil positifnya saja. Dengan adanya seperti ini, kita diminta untuk lebih menghargai sebuah pertemuan. Mungkin dulu kita selalu dipertemukan dengan orang-orang itu aja, tapi kalau situasinya udah gini, kangen juga kan sama mereka? 

Tahan dulu ya kangennya. Sekarang ini, cukup obati kangen itu dengan video call. Tanyakan kabar, tanyakan kesibukan dia sekarang, sampaikan kalau kalian kangen. Dan jangan lupa, karena suasana masih lebaran, sampaikan juga permintaan maaf kalian, ya. 
Gengsi buat minta maaf duluan? Kayaknya kalian musti nonton deh film india yang judulnya “Kabhi Kushi Kabhie Gham”. Di film ini, diceritakan detail, bagaimana dampak dari seseorang yang berat untuk meminta maaf dan ternyata hal itu sangat membawa dampak yang begitu besar loh di kehidupan mereka. Salah satu pesan yang dapat dipetik dari film ini :
“Meminta maaf itu nggak akan membuat kamu terlihat lebih rendah”
Terkadang kita gengsi buat minta maaf ke orang lain. Kita merasa bahwa kita nggak salah jadi ngapain minta maaf. Padahal belum tentu loh, pemikiran kita itu benar. Bisa jadi itu hanya ego kita saja. Bagaimana jika memang kita menyadari kalau kita salah tapi kendala utama kita adalah gengsi untuk meminta maaf duluan?

Nah, di sini aku mau bahas nih tentang PERMAAFAN yang terinsipirasi dari podcast Dr. Jiemi Ardian di INSPIGO tentang “Belajar Memaafkan”. Jadi aku mau merangkum poin-poin penting dari apa yang sudah dijelaskan oleh Dr. Jiemi Ardian. Here we go…
Poin penting pertama yang harus kita pahami dari esensi meminta maaf adalah membebaskan diri dari perasaan bersalah. Pernah keganggu nggak sih dengan adanya perasaan bersalahmu itu? Pikiran jadi kacau, perasaan jadi campur aduk, aktivitas seharian pun jadi terganggu. Perasaan bersalah itu tanpa kita sadari bisa bikin kita tersakiti. Nah, daripada kita rugi, lebih baik kita segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan diri kita, tentunya dengan cara meminta maaf kepada orang yang udah kita sakiti. Akan tetapi, sebelum kita meminta maaf kita harus memahami dulu tujuan kita meminta maaf itu apa? Sehingga maaf yang kita sampaikan pun bukan hanya sekadar ucapan.

Nah, masuk ke poin kedua yaitu tentang tujuan meminta maaf.  Sebelum kita meminta maaf, kita harus tahu dulu nih kita itu minta maaf untuk apa sih? Seringkali kita minta maaf tapi juga menyalahkan pihak yang lain. Contohnya aja seperti ini :
“Maaf ya seharian ini aku nggak ngasih kabar ke kamu, hla kemarin kamu juga gitu kan nyuekin aku, kan nyebelin”
Nah, dari kutipan di atas kira-kira ada yang salah nggak? Coba kamu bandingkan dengan kutipan kedua ini :
“Maaf ya, aku salah karena nggak ngasih kabar ke kamu seharian ini. Maaf udah bikin kamu marah, itu buat aku nyesel. Aku minta maaf ya, aku janji nggak bakal ngulangin lagi. Sekarang, kamu boleh kok mau marah sama aku atau mau ngatain aku, terserah kamu”
See the difference?

Poin penting di sini adalah ketika kita meminta maaf, kita mengakui kesalahan bukan menyalahkan. Nah, di kutipan pertama itu dia udah minta maaf tapi masih menyalahkan pihak yang lain. Berarti kan dia tidak mencapai tujuan dari minta maaf karena tujuan dari minta maaf itu sendiri adalah mengakui kesalahan WITHOUT ANY EXCUSE. Nah, hal itu bisa kita lihat pada kutipan yang kedua. Ketika kita belajar minta maaf maka berusahalah untuk asertif. Belajarlah untuk mengungkapkan perasaan tanpa menyalahkan orang lain. Di kutipan yang kedua ini kita bisa melihat bahwa dia sudah bisa mengakui kesalahannya tanpa ada excuse. Poin kedua dari kutipan kedua ini adalah dia menyadari detail kesalahannya itu seperti apa dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi.  Selain kedua poin itu, ada poin ketiga yang bisa kita tambahkan ketika kita minta maaf kepada seseorang yakni dengan menawarkan kompensasi. Contohnya bisa kita lihat di kutipan kedua di atas “Sekarang, kamu boleh kok mau marah sama aku atau mau ngatain aku, terserah kamu”. Adanya kompensasi ini memungkinkan kita untuk dapat menarik empati seseorang agar memaafkan kita. Dengan adanya pengakuan kesalahan tanpa excuse, menyadari detail kesalahan, berjanji untuk tidak mengulangi kembali, dan menawarkan kompensasi maka permintaan maaf kita itu nggak akan mentrigger seseorang untuk marah lagi.

Nah, sekarang coba kalian renungkan : Sebenarnya hal apa sih yang menghalangi kalian untuk meminta maaf? Apakah kalian tidak ingin terbebas dari rasa bersalah? Apa kalian tega  menyakiti diri kalian sendiri dengan perasaan bersalah kalian itu? Bukankah diri kalian juga butuh kesejahteraan batin? 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Tom-Tomen" merupakan sesuatu yang wajar kan?

Tulisan ini dibuat setelah beberapa minggu yang lalu aku kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang dulu ketika aku masih sekolah dasar, pernah mengantarku berangkat sekolah menggunakan payung karena saat itu hujan deras sedang mengguyur. Kami  menyusuri jalanan menuju sekolah dengan  jalan kaki berdua. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegangi payung yang dia arahkan diatas kepalaku supaya aku tidak kehujanan sedangkan tubuhnya hanya terlindungi sebagian saja dari payung sehingga baju dibagian punggungnya terkena hujan namun ia tidak begitu menghiraukannya. Lantas  tangan kirinya memegang erat tanganku  supaya aku tidak terpeleset karena jalanan licin.  Ketika terima rapor atau rapat orang tua siswa  dia yang selalu datang ke sekolah dengan membawa sepeda onthel. Selalu begitu, kemana-mana naik sepeda onthel, karena fisiknya masih kuat dan terkadang aku diboncengnya ke sekolah atau pergi ke suatu tempat. Namun, dulu aku ha...

Book Review - The Little Handbook For Big Career

  Pada postingan ini, saya akan memberikan ulasan buku "The Little Handbook For Big Career" yang ditulis oleh Ibu Riffa Sancati, seorang Founder dan CEO   The Lens Story . Buku #thelittlehandbook banyak membantu saya untuk menemukan versi terbaik dalam diri saya untuk dapat membangun karier yang saya inginkan. Dalam buku ini, Ibu Riffa menyadarkan saya bahwa dari hal-hal kecil yang bahkan terkadang saya anggap sepele, ternyata itu bisa mendatangkan manfaat besar dalam hidup saya.    Buku ini terdiri dari 10 bab yang bahasannya sangat komplit mulai dari masa-masa sebelum terjun ke dunia kerja, bagaimana untuk meraih sukses dalam pekerjaan kita, hingga bagaimana memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Banyak insight yang saya dapatkan dari buku ini, beberapa diantaranya yaitu mengenai passion, mindset, investment, dan resilience.   Di bagian awal buku ini membahas mengenai passion .Ibu Riffa menjelaskan dengan sangat apik tentang bagaimana pengaruh passion d...

HYPOPHRENIA

Suatu ketika, kamu melihat teman kamu nampak begitu murung,  tidak seperti biasanya. Lantas kamu bertanya kepada dia  karena penasaran “Kamu kenapa?” kemudian dia hanya menjawab “sedih”. Basa basi kamu bertanya lagi “sedih kenapa?” dan hanya satu kata yang terlontar dari mulutnya “gatau”. Tidak tahu adalah jawaban andalan seseorang yang kebingungan mendeskripsikan perasaannya. Berdasarkan pengalaman dan browsing-browsing di internet, orang yang tiba-tiba sedih tanpa tahu latar belakang yang membuat ia sedih itu bisa dibilang bahwa dia sedang HYPOPHRENIA. Yep, definisi Hypophrenia sendiri adalah perasaan sedih tanpa alasan. Padahal nih awalnya kamu merasa seneng eh tiba tiba hatimu merasa ngondok, nyesek, kesel, kecewa, dan bahkan sampai kamu nangis secara tiba-tiba tanpa kamu tahu mengapa hal itu bisa terjadi.  Biasanya sih hypophrenia hanya terjadi dalam waktu satu hari. Nah, untuk mengatasi serangan hyphophrenia ini menurut saya bisa dilakukan dengan self-healing. Me...