Tulisan ini dibuat setelah beberapa minggu yang lalu aku kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang dulu ketika aku masih sekolah dasar, pernah mengantarku berangkat sekolah menggunakan payung karena saat itu hujan deras sedang mengguyur. Kami menyusuri jalanan menuju sekolah dengan jalan kaki berdua. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegangi payung yang dia arahkan diatas kepalaku supaya aku tidak kehujanan sedangkan tubuhnya hanya terlindungi sebagian saja dari payung sehingga baju dibagian punggungnya terkena hujan namun ia tidak begitu menghiraukannya. Lantas tangan kirinya memegang erat tanganku supaya aku tidak terpeleset karena jalanan licin.
Ketika terima rapor atau rapat orang tua siswa dia yang selalu datang ke sekolah dengan membawa sepeda onthel. Selalu begitu, kemana-mana naik sepeda onthel, karena fisiknya masih kuat dan terkadang aku diboncengnya ke sekolah atau pergi ke suatu tempat. Namun, dulu aku hanyalah anak bawang yang berusia 10 tahunan yang pemikirannya masih belum logis dan masih dikuasai oleh hawa nafsu. Kadang aku malu dibonceng sepeda onthel, aku juga ingin dibonceng naik sepeda motor seperti teman-temanku yang lain. Wajar kan ada rasa iri pada anak seusiaku? Dan Ternyata dia tahu perasaanku saat itu, seperti ada rasa sebal dan kecewa dengan sifatku yang tidak bisa mensyukuri apa yang sudah ada. Aku merasa hina sekali saat itu, aku malu terhadap diriku sendiri. Dulu, ketika ada pasar malam a.k.a sekaten kami bersama dengan ibu dan kakakku selalu menyempatkan pergi kesana, naik becak berempat. Kadang aku duduk dipangkuannya dan bagiku itu adalah kursi ternyaman yang pernah aku duduki. Ah sederhana but memorable sekali quality time kami.
Baru-baru ini ketika kuliah 2 semester yang lalu, dia sempat marah karena aku pulang larut malam dan sebelumnya aku tidak pamitan dan hanya pamitan dengan ibu dan mungkin ibu lupa memberitahunya jika aku pulang malam. Jadi saat itu, aku berangkat dari rumah sekitar pukul 8 malam bersama dengan ketiga temanku untuk menonton pentas teater. Karena hujan deras , acara yang seharusnya dimulai pukul 7 namun baru dimulai sekitar pukul setengah sembilan dan otomatis kelarnya juga akan molor kan. Ketika pentas berlangsung, aku benar benar tidak ada pikiran untuk membuka hape sama sekali. Dan ternyata benar, acara baru selesai hampir sekitar pukul setengah 11 malam. Perasaanku sudah tidak enak, sehingga aku langsung bergegas pulang. Sampai dirumah, kedua pintu rumah sudah tertutup sehingga aku mengira kalo orang-orang rumah sudah tertidur. Namun ketika aku membuka pintu, dia sudah berdiri disitu. Aku kaget, dan tidak berani menatap matanya. Aku benar-benar dimarahi dengan nada yang agak meninggi, katanya aku tidak mengerti waktu jika main keluar. Seumur-umur baru sekali itu aku kena marah olehnya, aku langsung masuk kedalam kamar dan menangis. Aku membuka HP dan ternyata terdapat belasan missed call darinya yang tidak ku angkat. Sungguh aku merasa bersalah sekali sudah membuatnya khawatir. Keesokan harinya, hanya aku dan dia yang berada dirumah, karena ibu dan nenek sudah pergi ke warung. Aku tidak mengajaknya berbicara, aku hanya pamit dan mencium tangannya kemudian cepat-cepat meninggalkan rumah walaupun itu masih terlalu pagi bagiku. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan kami sudah baik-baik saja. Memang begitu, dia biasa marah paling satu atau dua hari saja. Namun, jika dipikir memang harus seperti itu sih sikap yang tepat jika anak berbuat sesuatu yang salah. Harus diberi suatu reinforcement negatif seperti teguran maupun punishment agar ia jera. Mungkin aku merasa dengan dia yang seperti itu berarti bahwa dia itu galak, tidak memahami kesenangan anak muda atau terlalu egois. Ternyata aku salah,saat itu aku hanya dikuasai emosi negatif sehingga tidak bisa berpikir jernih. Hey, bukankah dengan begitu dia menunjukkan rasa sayangnya kepadaku? Bukankah dengan memarahi berarti dia masih perhatian denganku? Kalau dia tidak marah bukankah itu menjadi suatu hal yang tidak wajar? Memarahi berarti perhatian kan? Bukankah harusnya aku seneng jika masih diperhatikan? Lantas mengapa aku malah membenci keadaan ini? bodoh memang aku ini.
Sekarang setelah kepergiannya, aku baru merasakan kehilangan segala sesuatunya termasuk perhatian darinya. Bagiku, dia adalah seseorang yang paling kuat karena dia bisa survive selama hampir 3 tahun melawan penyakitnya. Aku yang menungguinya di rumah sakit saja kadang merasa lelah karena harus bolak balik rumah sakit and sometimes, I wonder “kapan ya ujian ini akan berakhir?” karena aku tidak tega melihatnya yang setiap kali masuk rumah sakit harus merasakan tajamnya jarum infus yang menusuk tangannya yang sudah tak nampak lagi daging di dalamnya karena hanya tulang yang tersisa. Padahal rumah sakit sudah menjadi rumah kedua baginya, jadi sudah tak terhitung berapa kali ia merasakan jarum infus yang menembus kulit tangannya. Hal seperti itu berlangsung dalam kurun waktu hampir tiga tahun sampai Allah memanggilnya. Aku tahu ini sudah menjadi kehendak terbaik Allah bagi dia dan kami sekeluarga. Dia sudah tidak merasakan sakit yang ia derita selama ini. Insyallah, dia sudah baik-baik saja disana. Namun yang sedang tidak baik adalah dampak dari kepergiannya. Apakah wajar jika setelah kita kehilangan orang yang setiap hari bertemu dengan kita di rumah, kita menjadi takut berada dirumah sendiri? Apalagi jika baru sehari dua hari pokoknya satu minggu ditinggal, jujur saja aku menjadi merasa takut, hehe. Padahal sekarang yang tinggal dirumah hanya aku, ibu dan nenek. Dan semenjak pagi aku sudah ditinggal mereka pergi ke warung. Kalau pagi sampai sore ditinggal dirumah sendiri mah gapapa tapi yang jadi ketakutanku adalah ketika malam hari. Pernah kemarin aku ditinggal ibu pergi ke suatu acara dan nenek sudah tidur di kamarnya sehingga tersisa aku sendiri di ruang tamu. Untuk memecah keheningan aku putar saja lagu lagu yang ada di laptop dan nyalain televisi but meski begitu masih saja ada rasa takut yang menghantui :(. Pokoknya setelah kepergiannya, aku Ke kamar mandi harus ditemenin, tidur juga enggak mau sendiri. Biasanya aku berani tidur sendiri, namun sekarang dan mungkin untuk sementara waktu aku tidur sama Ibu. Jika aku tidur di samping ibu namun ibu tidur dengan posisi yang membelakangiku maka aku akan membangunkannya dan bilang “bu, ngadep sini lho” sambil aku memegangi tangannya pokoknya aku harus tidur dalam keadaan dimana aku merasa tidak sedang tidur sendirian. Dan itu ibu sangat terganggu sekali tangannya kupegangi karena ibu tidak bisa bergerak hehehe. Ibu juga tahu kalau aku takut karena apa. Ibu bilang “uwong kok jirih men karo keluargane dewe wedi”. Sebenarnya enggak cuma waktu itu aja sih, aku memang setiap kali ada orang yang aku kenal meninggal aku menjadi takut ketika sendirian. Namun entah kenapa kalau keluarga sendiri yang pergi, rasa takut ini bertambah lama, tidak hilang-hilang. Rasanya seperti di setiap sudut rumah masih terlihat sosoknya atau kalau orang jawa bilang “tom-tomen”. Dan saat ini aku sedang tom-tomen, hehe. Jadi menurut kalian apakah itu sesuatu yang wajar?
Komentar
Posting Komentar