Sebagai mahkluk sosial, kita tidak bisa terlepas dari orang lain karena sehari-hari kita tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat. Kita tidak dapat hidup sendiri karena kita tetap butuh tangan — tangan orang lain untuk menolong kita. Berada di tengah lingkungan masyarakat membuat kita terbiasa untuk melihat dan mendengar bagaimana masyarakat menilai tentang suatu hal. Misalnya saja tentang kecantikan seorang perempuan. Tak sedikit dari masyarakat yang menilai bahwa kecantikan itu identik dengan kulit putih, kaki jenjang, rambut panjang, tubuh langsing dan berbagai kondisi fisik lain yang dikatakan sebagai “tubuh ideal” seorang perempuan menurut versi mereka. Alhasil apabila kondisi tersebut tidak ada pada diri kita, maka kita seringkali mendapat olokan/bullying dari orang lain karena menurut mereka kita tidak memenuhi “standar” yang mereka ciptakan.
Bentuk dari bullying yang mengarah pada penampilan fisik seseorang disebut dengan istilah body shaming. Perempuan kerap kali menjadi korban body shaming. Adanya stigma yang beredar di masyarakat tentang kecantikan menimbulkan berbagai respon yang berbeda pada setiap perempuan. Ada yang merasa bodo amat dan ada pula yang terpengaruh dengan stigma tersebut sehingga membuatnya selalu berusaha untuk memenuhi standar nilai itu agar mendapatkan penilaian yang positif. Nah, di sini yang menjadi masalah adalah ketika kita terpengaruh oleh penilaian masyarakat yang padahal tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya itu. Kita menjadi merasa bahwa diri kita ini kurang atau tidak sempurna karena tidak memenuhi “standar” penilaian masyarakat mengenai gambaran kecantikan dari seorang perempuan. Alhasil, kita terdorong untuk melakukan suatu hal seperti diet, olahraga ketat, yang mana itu semua hanya untuk memenuhi ”tuntutan” masyarakat dan bukan karena keinginan diri sendiri untuk memperbaiki diri. Bukankah melakukan sesuatu hal yang tidak berasal dari dorongan diri sendiri hanya akan menyakiti hati kita ?
Masyarakat mungkin masih menganggap remeh apa itu body shaming dan bagaimana dampaknya bagi korban sehingga membuat mereka dengan mudahnya melontarkan kalimat-kalimat yang mereka anggap sebagai “candaan” itu. Perlu kita ingat bahwa kita tidak bisa menyamakan pemikiran orang lain dengan pemikiran kita. Jadi, apa yang kita anggap “gapapa” belum tentu orang lain pun juga akan menganggapnya “gapapa”. Sekarang, coba kalian bayangkan saja, ketika kalian melontarkan kalimat-kalimat seperti ini pada seorang perempuan :
“Cewek kok betisnya gede banget, nggak malu?”
“Dada kamu kok rata? Nggak ada bedanya sama cowok”
Dengan nada yang seolah bercanda, kalian dengan santainya berkata seperti itu pada seorang perempuan yang bahkan kalian tidak tahu bagaimana kondisi batinnya saat itu. Mungkin, ketika mendengar “candaan” kalian itu, dia seperti biasa saja dengan masih menyuguhkan senyuman terbaiknya. Namun, kalian tidak pernah tahu bagaimana gejolak pikiran dan perasaannya setelah kalian berbicara seperti itu pada mereka. Kalian tidak bisa mendikte bahwa bullyan yang kalian kemas dalam konteks “bercanda” akan dapat direspon dengan positif oleh orang yang kalian bully. Bagaimana jika orang yang kalian body shaming-in itu adalah orang yang sedang berjuang untuk menerima kondisi fisiknya? Apa kalian tahu bagaimana dampak psikologis yang akan dia rasakan? Body shaming akan membuat seseorang merasa malu, marah, mudah tersinggung, percaya diri rendah, dan bahkan stress. Ketahuilah bahwa menyembuhkan luka batin itu tidak semudah menyembuhkan luka fisik. Butuh treatment, waktu dan proses untuk menyembuhkan luka batin seseorang.
Menjadi korban body shaming membuat perempuan membanding-bandingkan dirinya dengan perempuan lain. Alhasil, ia akan menciptakan penilaian negatif terhadap dirinya sendiri yang akan membuatnya selalu merasa kurang sehingga akan mengakibatkan ketidakpuasan pada diri sendiri. Ironisnya, kita sebagai perempuan malah saling menjatuhkan dengan mengkritisi kondisi fisik perempuan lain. Seolah olah kita merasa sudah memiliki semua komponen kecantikan pada umumnya. Sebenarnya cantik itu apa sih girls?
Kalau aku pribadi sih kecantikan itu tidak hanya terdiri dari fisik melainkan ada beberapa komponen seperti hati, pikiran, dan perilaku. Jadi, definisi cantik menurutku adalah perempuan yang memiliki hati yang baik, pikiran yang jernih, dan perilaku yang sopan. Sedangkan fisik adalah nomer sekian atau bisa dikatakan bonus lah. Sebagai perempuan, kita harus memiliki definisi cantik menurut diri kita sendiri dan jadikan itu sebagai pedoman yang tidak boleh terkontraminasi dengan penilaian orang lain yang tidak ada validitasnya. Jangan biarkan dirimu tersakiti hanya karena omongan orang lain. Hargailah apa yang ada pada dirimu saat ini, bersyukurlah jika kamu menjadi beda diantara banyak orang. Terkadang, perbedaan memang membuat kita takut dan malu. Hal itu yang mungkin mendorong kita berusaha untuk menjadi sama dengan yang lain agar kita merasa aman. Padahal, menjadi beda itu tidak selalu buruk. Perbedaan itu unik jika kita bisa menerimanya.
Lalu bagaimana cara menyikapi body shaming yang kita alami ? Caranya adalah dengan membangun body image yang positif. Sadarilah bahwa dirimu perlu untuk dihargai dan dicintai. Jadi, bangunlah penilaian yang positif terhadap dirimu. Ubahlah cara pandang terhadap dirimu, jangan melulu soal fisik melainkan pada fungsi. Kamu masih bisa berjalan menggunakan kakimu yang betisnya gede, kamu masih bisa berkarya dengan kedua tanganmu yang kelihatan kurus, kamu masih bisa merasakan hangatnya sinar mentari dengan kulitmu yang hitam. Jadi, bersyukurlah dengan semua itu. Berterima kasihlah kepada badanmu karena tanpa dia kamu tidak bisa apa-apa.
So girls, let’s give love to your body !
#stopbodyshaming #mulaidarikamu
Pict by pinterest
Sumber inspirasi :
- Pengalaman pribadi penulis
- Dano, A.A (Pijar Psikologi).(2020).Yang Belum Usai. Jakarta : PT Elex Media Komputindo
- Lestari, S.(2019). Bullying or Body Shaming? Young Women in Patient Body Dysmorphic Disorder. Philanthrophy Journal of Psychology, 3 (1), 1–74.
Bentuk dari bullying yang mengarah pada penampilan fisik seseorang disebut dengan istilah body shaming. Perempuan kerap kali menjadi korban body shaming. Adanya stigma yang beredar di masyarakat tentang kecantikan menimbulkan berbagai respon yang berbeda pada setiap perempuan. Ada yang merasa bodo amat dan ada pula yang terpengaruh dengan stigma tersebut sehingga membuatnya selalu berusaha untuk memenuhi standar nilai itu agar mendapatkan penilaian yang positif. Nah, di sini yang menjadi masalah adalah ketika kita terpengaruh oleh penilaian masyarakat yang padahal tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya itu. Kita menjadi merasa bahwa diri kita ini kurang atau tidak sempurna karena tidak memenuhi “standar” penilaian masyarakat mengenai gambaran kecantikan dari seorang perempuan. Alhasil, kita terdorong untuk melakukan suatu hal seperti diet, olahraga ketat, yang mana itu semua hanya untuk memenuhi ”tuntutan” masyarakat dan bukan karena keinginan diri sendiri untuk memperbaiki diri. Bukankah melakukan sesuatu hal yang tidak berasal dari dorongan diri sendiri hanya akan menyakiti hati kita ?
Masyarakat mungkin masih menganggap remeh apa itu body shaming dan bagaimana dampaknya bagi korban sehingga membuat mereka dengan mudahnya melontarkan kalimat-kalimat yang mereka anggap sebagai “candaan” itu. Perlu kita ingat bahwa kita tidak bisa menyamakan pemikiran orang lain dengan pemikiran kita. Jadi, apa yang kita anggap “gapapa” belum tentu orang lain pun juga akan menganggapnya “gapapa”. Sekarang, coba kalian bayangkan saja, ketika kalian melontarkan kalimat-kalimat seperti ini pada seorang perempuan :
“Cewek kok betisnya gede banget, nggak malu?”
“Dada kamu kok rata? Nggak ada bedanya sama cowok”
Dengan nada yang seolah bercanda, kalian dengan santainya berkata seperti itu pada seorang perempuan yang bahkan kalian tidak tahu bagaimana kondisi batinnya saat itu. Mungkin, ketika mendengar “candaan” kalian itu, dia seperti biasa saja dengan masih menyuguhkan senyuman terbaiknya. Namun, kalian tidak pernah tahu bagaimana gejolak pikiran dan perasaannya setelah kalian berbicara seperti itu pada mereka. Kalian tidak bisa mendikte bahwa bullyan yang kalian kemas dalam konteks “bercanda” akan dapat direspon dengan positif oleh orang yang kalian bully. Bagaimana jika orang yang kalian body shaming-in itu adalah orang yang sedang berjuang untuk menerima kondisi fisiknya? Apa kalian tahu bagaimana dampak psikologis yang akan dia rasakan? Body shaming akan membuat seseorang merasa malu, marah, mudah tersinggung, percaya diri rendah, dan bahkan stress. Ketahuilah bahwa menyembuhkan luka batin itu tidak semudah menyembuhkan luka fisik. Butuh treatment, waktu dan proses untuk menyembuhkan luka batin seseorang.
Menjadi korban body shaming membuat perempuan membanding-bandingkan dirinya dengan perempuan lain. Alhasil, ia akan menciptakan penilaian negatif terhadap dirinya sendiri yang akan membuatnya selalu merasa kurang sehingga akan mengakibatkan ketidakpuasan pada diri sendiri. Ironisnya, kita sebagai perempuan malah saling menjatuhkan dengan mengkritisi kondisi fisik perempuan lain. Seolah olah kita merasa sudah memiliki semua komponen kecantikan pada umumnya. Sebenarnya cantik itu apa sih girls?
Kalau aku pribadi sih kecantikan itu tidak hanya terdiri dari fisik melainkan ada beberapa komponen seperti hati, pikiran, dan perilaku. Jadi, definisi cantik menurutku adalah perempuan yang memiliki hati yang baik, pikiran yang jernih, dan perilaku yang sopan. Sedangkan fisik adalah nomer sekian atau bisa dikatakan bonus lah. Sebagai perempuan, kita harus memiliki definisi cantik menurut diri kita sendiri dan jadikan itu sebagai pedoman yang tidak boleh terkontraminasi dengan penilaian orang lain yang tidak ada validitasnya. Jangan biarkan dirimu tersakiti hanya karena omongan orang lain. Hargailah apa yang ada pada dirimu saat ini, bersyukurlah jika kamu menjadi beda diantara banyak orang. Terkadang, perbedaan memang membuat kita takut dan malu. Hal itu yang mungkin mendorong kita berusaha untuk menjadi sama dengan yang lain agar kita merasa aman. Padahal, menjadi beda itu tidak selalu buruk. Perbedaan itu unik jika kita bisa menerimanya.
Lalu bagaimana cara menyikapi body shaming yang kita alami ? Caranya adalah dengan membangun body image yang positif. Sadarilah bahwa dirimu perlu untuk dihargai dan dicintai. Jadi, bangunlah penilaian yang positif terhadap dirimu. Ubahlah cara pandang terhadap dirimu, jangan melulu soal fisik melainkan pada fungsi. Kamu masih bisa berjalan menggunakan kakimu yang betisnya gede, kamu masih bisa berkarya dengan kedua tanganmu yang kelihatan kurus, kamu masih bisa merasakan hangatnya sinar mentari dengan kulitmu yang hitam. Jadi, bersyukurlah dengan semua itu. Berterima kasihlah kepada badanmu karena tanpa dia kamu tidak bisa apa-apa.
So girls, let’s give love to your body !
#stopbodyshaming #mulaidarikamu
Pict by pinterest
Sumber inspirasi :
- Pengalaman pribadi penulis
- Dano, A.A (Pijar Psikologi).(2020).Yang Belum Usai. Jakarta : PT Elex Media Komputindo
- Lestari, S.(2019). Bullying or Body Shaming? Young Women in Patient Body Dysmorphic Disorder. Philanthrophy Journal of Psychology, 3 (1), 1–74.

Komentar
Posting Komentar