Bullying merupakan salah satu kasus yang kerap kali hadir di kehidupan kita sehari-hari. Bullying
dapat dilakukan di mana dan kapan saja. Banyak dari masyarakat sekarang
ini yang mungkin secara nggak sadar udah pernah menjadi pelaku bullying. Apalagi dengan adanya media sosial saat ini, seakan mempermudah akses seseorang untuk melakukan bullying.
Bullying bisa
terjadi karena dilandasi oleh adanya rasa iri dan dengki atas
pencapaian orang lain, merasa orang lain melakukan hal yang nggak sesuai
dengan penilaian yang dia ciptakan sendiri sehingga menurutnya tindakan
orang lain pun dinilai salah. Adanya perasaan-perasaan seperti itu
dapat mendorong seseorang untuk menunjukkan pada orang lain bahwa
dirinya lebih baik dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari yang dibully. Bullying
mengarah pada tindakan yang bertujuan untuk merendahkan orang lain,
entah itu secara fisik, secara verbal, ataupun secara psikologis.
Bullying yang kemarin-kemarin rame dibahas di media sosial adalah bullying
yang dilakukan oleh tiga orang siswa yang sedang menganiaya salah
seorang siswi di dalam kelas. Pukulan dan tendangan berkali-kali
dijatuhkan ke arah badan dan kepala dari siswi tersebut secara
bergantian oleh tiga siswa itu. Dan lebih parahnya lagi, siswi tersebut
ternyata adalah seorang penyandang disabilitas. Can u imagine it?
Seorang remaja perempuan dengan keterbatasan yang ada pada dirinya
harus mendapatkan pengalaman yang begitu pahit dan pastinya bakalan
membekas banget dalam hidupnya. Padahal orang-orang seperti dia adalah
orang yang perlu untuk kita dampingi, kita berikan dukungan dan kasih
sayang agar ia nggak merasa sendiri, insecure,
rendah diri, takut dan apapun itu yang membuatnya memandang dirinya
secara negatif. Nah, di sini peran teman sebaya sangat dibutuhkan.
Namun, apa yang dia dapatkan malah sebaliknya, teman sebayanya malah
memperlakukan dia dengan sangat tidak manusiawi. Hal itu tentunya
membawa dampak yang begitu besar bagi psikologis korban. Pertama, bullying memunculkan low psychological well being
dalam diri korban sehingga membuatnya takut untuk pergi ke sekolah
karena adanya rasa tidak nyaman, ketakutan, kekhawatiran, dan
emosi-emosi negatif lain yang mengakibatkan dia memilih untuk menarik
diri dari lingkungan.
Kedua, bullying menimbulkan
konflik dalam diri korban yang membuat korban harus bisa menyikapinya
dengan konsep diri yang dia ciptakan sendiri, entah itu konsep diri
positif atau pun konsep diri negatif. Remaja yang memiliki konsep diri
negatif setelah di bully akan cenderung menutup diri, lebih suka menyendiri, dan powerless sehingga mengakibatkan ia kurang mampu untuk bangkit dalam menyelesaikan konflik yang ada pada dirinya karena adanya rasa insecure
yang menyelimuti hatinya. Sedangkan, remaja dengan konsep diri yang
positif, mereka akan cenderung berusaha untuk menunjukkan bahwa ia mampu
menyelesaikan konflik yang terjadi dalam dirinya sehingga ia akan lebih
terlihat percaya diri untuk menjadi individu yang resilien. Agar remaja
dapat membangun konsep diri yang positif, ia perlu mendapatkan
pendampingan dan pengarahan dari orang dewasa di sekitarnya karena usia
remaja merupakan usia yang penuh dengan kelabilan emosi.
Ketiga, adanya intimidasi dalam bullying
membuat korban tidak berani untuk bercerita dengan orang lain, sehingga
mereka cenderung untuk memendamnya sendiri. Padahal menyimpan segala
keluh kesah ataupun uneg-uneg dalam diri itu nggak bagus buat kesehatan
mental kita.
Jadi, di tulisan ini aku pengen menyampaikan pada kalian para korban bullying di
mana pun kalian berada, ayo kalian jangan hanya diam saja, lihatlah
sekeliling kalian, masih banyak kok orang-orang yang peduli sama kalian
dan bersedia mendengarkan keluh kesah kalian, jangan takut untuk speak up karena speak up
adalah langkah awal kalian untuk mencari pertolongan. Memperluas
jaringan pertemanan adalah hal yang penting untuk mencegah terjadinya bullying karna biasanya nih sasaran dari bullying adalah orang-orang yang sering terlihat menyendiri dan powerless.
Ketika kalian merasa tertekan, takut, nggak nyaman setidaknya kalian
bisa memperoleh rasa aman dari teman-teman kalian yang selalu ada buat
kalian untuk berbagi cerita, pasti deh beban yang ada di hati kalian
sedikit demi sedikit bakal berkurang. Jangan takut juga untuk
menceritakan masalah kalian pada keluarga karena keluarga adalah sistem
utama yang memenuhi kebutuhan dasar anak, mulai dari sandang pangan
papan, rasa aman, cinta dan kasih sayang. Keluarga adalah tempat pertama
kita mencari perlindungan dan kehangatan. Orang tua dan anak harus
saling menjaga komunikasi yang intens demi terciptanya hubungan yang
dekat dan terpenuhinya kebutuhan love and belongingness pada anak.
Last but not least,
yuk kita biasakan diri kita untuk nggak berbicara secara ceplas ceplos
pada orang lain. Karena apa yang kita anggap gapapa belum tentu bagi
orang lain pun juga gapapa. Biasakan untuk berpikir sebelum berucap.
Bayangin jika kamu menjadi orang lain yang mendengarkan ucapanmu itu.
Sadarilah bahwa nggak semua orang memiliki sudut pandang yang sama
dengan kamu dan kamu juga nggak bisa memaksakan orang lain untuk
menerimanya.
So
guys, You have to choose your words wisely because who you are depends
on what you say. People will respect to you if you respect to them in a
good words.
Pict by : Pinterest

Komentar
Posting Komentar