Langsung ke konten utama

Enjoy Yourself with “Me-Time”

Sore ini aku seneng karena bisa ngelakuin kebiasaan yang udah lama banget aku tinggalin yaitu nongkrong berdua bersama dengan laptopku di sebuah coffeeshop dekat SMA ku dulu. Kesibukanku sebagai mahasiswa tingkat akhir di awal tahun 2019 membuatku nggak produktif buat nulis. Namun, Alhamdulillah aku bisa nyelesaiin kuliah lebih cepet dari target dan gelar sarjana psikologi bisa aku raih di bulan Juni 2019 kemarin. Thank for myself, I really proud of you !

Terkadang, diri kita dibebankan dengan banyak sekali pemasalahan yang tak kunjung selesai. Ketika satu masalah kelar maka akan tumbuh lagi permasalahan yang lain begitu seterusnya. Sebagai manusia pun kita nggak bisa menampik hal itu karena kehidupan adalah rentetan masalah yang harus kita selesaikan untuk meraih kebahagiaan. Mungkin kita lelah tapi kadang kita tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tentunya hal itu nggak bagus buat kesehatan fisik maupun mental.

Give your heart and soul to breath. Salah satu hal penting yang harus kamu pikirkan adalah dirimu sendiri. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu hingga lupa bahwa dirimu juga butuh untuk diperhatikan. Salah satu cara untuk menyayangi diri sendiri adalah dengan me-time. Bagiku, me time adalah waktu yang sangat berharga, seperti yang sedang aku lakuin sekarang ini, duduk sendiri sembari menikmati segelas milktea dengan boba yang tenggelam didalamnya, dipadukan bersama dengan satu piring kentang goreng hangat dan tak lupa dicolek dengan saos sebelum dimakan. Dua items itu sempurna banget buat nemenin aku cari inspirasi untuk nulis. Aku bisa betah banget kalau kayak gini tuh, bisa berjam-jam. Somehow, aku seperti kembali memperoleh energi setelah seharian bekerja. Me-time bagiku adalah sebuah media untuk mengekspresikan diri, menghargai kesendirian, dan yang penting adalah untuk mencintai diriku sendiri karena disitu aku hanya ingin berinteraksi dengan diriku sendiri, it’s all about me and myself. Me-time benar-benar membawa pengaruh positif yang besar bagi diriku.

Namun, ternyata nggak semua orang menganggap me-time itu sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dan bahkan mereka menganggap bahwa me-time merupakan suatu hal yang aneh buat dilakuin. Kayak misalnya aja me-time yang sering aku lakuin, nonton bioskop sendirian. Banyak banget orang disekitarku yang menilai itu sebagai hal yang aneh. Padahal aku dan diriku sama sekali nggak mempermasalahkan akan hal itu karena aku nggak merasa dirugikan.

“Kamu kok kasihan banget sih nonton sendirian”, kata seorang temenku sebut saja Bunga. Mendengar apa yang dikatakan Bunga dengan raut wajah yang seolah-olah heran, aku pun berpikir emang ada yang salah kalau aku nonton sendirian? “Kenapa kamu nggak ngajak temen gitu kalau kamu pergi? Daripada kemana-mana sendiri kayak anak ilang” tanya si Bunga. Jadi gini, menurutku ketika kita pengen melakukan sesuatu itu kan berdasarkan dengan keinginan hati. Nah, sedangkan kita nggak pernah bisa memprediksi suasana hati kita besok, hari ini dan bahkan satu detik kedepan. Jadi, terkadang keinginan itu muncul secara tiba-tiba dan kalau mengandalkan orang lain pun belum tentu bisa memenuhi keinginan kita. Masak iya sih kita harus mendelay keinginan hati kita sendiri hanya karena orang lain? Nanti malah kita sendiri yang menjadi kesiksa karena belum mengikuti keinginan hati. That’s why aku memiliki prinsip untuk tidak selalu mengandalkan orang lain, aku nggak boleh takut kemana-mana sendiri. Aku pernah baca suatu quote yang intinya adalah jangan menaruh harapan pada manusia, maka kamu akan kecewa. Saat aku telaah, quote itu bener banget. Kamu nggak bisa mengendalikan mood ataupun perilaku orang lain agar sesuai dengan keinginanmu. Ketika kamu terjatuh, kamu nggak bisa menggerakkan hati mereka agar mau menolong kecuali mereka sendiri yang menggerakkannya. Jadi, melalui me-time ini kamu bisa belajar untuk membiasakan diri agar nggak selalu mengharapkan orang lain untuk memenuhi keinginan hatimu karena satu-satunya yang bisa menolongmu tidak lain adalah dirimu sendiri. Dengan menuruti keiginanmu untuk nonton film yang paling kamu tunggu-tunggu udah termasuk salah satu bentuk dari menolong diri sendiri kan?

“Hubunganmu dengan keluarga di rumah nggak hangat ya? Kok sering pergi keluar sendiri” kata seorang ibu-ibu yang baru aku kenal lewat temanku. Saat itu telingaku kayak ga bisa nerima apa yang dikatakan si Ibu itu setelah aku cerita kalau aku suka banget nongkrong sendiri di kafe, entah itu hanya sekedar membaca buku atau bergelut dengan laptop. “Hubungan yang nggak hangat” bagiku itu merujuk ke hal yang negatif like keluarga yang broken padahal keluargaku baik-baik aja. Ya memang sih terkadang aku merasa kesepian karena aku udah nggak serumah lagi dengan keenam kakakku sehingga kita jarang banget ketemu tapi alhamdulillah teknologi sekarang sudah canggih sehingga mendekatkan orang yang jauh. Merasa sepi karena jarang bertemu dengan keluarga itu bukan berarti hubunganku dengan keluarga tidak hangat kan? Bagiku, me-time bukan permasalahan kamu dengan orang lain melainkan kamu dengan dirimu sendiri sehingga kamu perlu menyelesaikannya. Kamu butuh pikiran yang nggak dikendalikan oleh emosi negatif, kamu butuh hati yang nggak tertutupi oleh rasa insecure, dan kamu butuh raga yang kuat untuk diajak berjuang. Nah, dengan me-time ini kita bisa belajar untuk mengelola emosi yang mungkin bisa kamu lakukan ketika berada dalam situasi yang tenang dan nggak banyak orang. Coba deh rasain bahwa dengan me-time ini kamu bisa memperoleh kembali energimu, menemukan gairah untuk melukis hari esok dengan warna yang lebih cerah.

Baik buruknya me-time itu tergantung bagaimana cara pandang kamu sendiri. Kalau kamu memandang itu secara positif bahwa kamu butuh itu untuk re-charge energi supaya kamu bisa merasa lebih baik ya kamu pun juga akan enak untuk ngejalaninnya. Tapi, kalau kamu memandang me-time secara negatif bahwa me-time hanya akan merugikan kamu karena terlalu khawatir akan pemikiran jelek orang lain terhadapmu. Padahal mah itu hanya pemikiranmu aja yang belum tentu bener juga. So, it’s depends on how the way you think about you and yourself.

Don’t you know that everybody has their own way to get their convenience, warmness, and happiness for themself. Apa yang menurutmu itu buruk, belum tentu menurut orang lain juga buruk, pun sebaliknya. Kita hidup di bumi ini kan berdampingan dengan banyak orang, setiap hari ketemu orang dengan berbagai perilaku dan kebiasaan yang dilakukan. Jadi, sudah sewajarnya donk kita harus saling menghargai apa yang mereka lakukan selagi itu nggak merugikan kita.Yuk, kita saling memahami bahwa manusia itu hidup dalam dua versi, sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial. Ada saatnya mereka butuh orang lain, dan ada saatnya juga mereka ingin bersama dengan dirinya sendiri.
“Kita nggak bisa hidup tanpa orang lain tapi kita juga nggak bisa hidup jika kita kehilangan diri sendiri” — DN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Tom-Tomen" merupakan sesuatu yang wajar kan?

Tulisan ini dibuat setelah beberapa minggu yang lalu aku kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang dulu ketika aku masih sekolah dasar, pernah mengantarku berangkat sekolah menggunakan payung karena saat itu hujan deras sedang mengguyur. Kami  menyusuri jalanan menuju sekolah dengan  jalan kaki berdua. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegangi payung yang dia arahkan diatas kepalaku supaya aku tidak kehujanan sedangkan tubuhnya hanya terlindungi sebagian saja dari payung sehingga baju dibagian punggungnya terkena hujan namun ia tidak begitu menghiraukannya. Lantas  tangan kirinya memegang erat tanganku  supaya aku tidak terpeleset karena jalanan licin.  Ketika terima rapor atau rapat orang tua siswa  dia yang selalu datang ke sekolah dengan membawa sepeda onthel. Selalu begitu, kemana-mana naik sepeda onthel, karena fisiknya masih kuat dan terkadang aku diboncengnya ke sekolah atau pergi ke suatu tempat. Namun, dulu aku ha...

Book Review - The Little Handbook For Big Career

  Pada postingan ini, saya akan memberikan ulasan buku "The Little Handbook For Big Career" yang ditulis oleh Ibu Riffa Sancati, seorang Founder dan CEO   The Lens Story . Buku #thelittlehandbook banyak membantu saya untuk menemukan versi terbaik dalam diri saya untuk dapat membangun karier yang saya inginkan. Dalam buku ini, Ibu Riffa menyadarkan saya bahwa dari hal-hal kecil yang bahkan terkadang saya anggap sepele, ternyata itu bisa mendatangkan manfaat besar dalam hidup saya.    Buku ini terdiri dari 10 bab yang bahasannya sangat komplit mulai dari masa-masa sebelum terjun ke dunia kerja, bagaimana untuk meraih sukses dalam pekerjaan kita, hingga bagaimana memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Banyak insight yang saya dapatkan dari buku ini, beberapa diantaranya yaitu mengenai passion, mindset, investment, dan resilience.   Di bagian awal buku ini membahas mengenai passion .Ibu Riffa menjelaskan dengan sangat apik tentang bagaimana pengaruh passion d...

HYPOPHRENIA

Suatu ketika, kamu melihat teman kamu nampak begitu murung,  tidak seperti biasanya. Lantas kamu bertanya kepada dia  karena penasaran “Kamu kenapa?” kemudian dia hanya menjawab “sedih”. Basa basi kamu bertanya lagi “sedih kenapa?” dan hanya satu kata yang terlontar dari mulutnya “gatau”. Tidak tahu adalah jawaban andalan seseorang yang kebingungan mendeskripsikan perasaannya. Berdasarkan pengalaman dan browsing-browsing di internet, orang yang tiba-tiba sedih tanpa tahu latar belakang yang membuat ia sedih itu bisa dibilang bahwa dia sedang HYPOPHRENIA. Yep, definisi Hypophrenia sendiri adalah perasaan sedih tanpa alasan. Padahal nih awalnya kamu merasa seneng eh tiba tiba hatimu merasa ngondok, nyesek, kesel, kecewa, dan bahkan sampai kamu nangis secara tiba-tiba tanpa kamu tahu mengapa hal itu bisa terjadi.  Biasanya sih hypophrenia hanya terjadi dalam waktu satu hari. Nah, untuk mengatasi serangan hyphophrenia ini menurut saya bisa dilakukan dengan self-healing. Me...