Suatu ketika, kamu melihat teman kamu nampak begitu murung, tidak seperti biasanya. Lantas kamu bertanya kepada dia karena penasaran “Kamu kenapa?” kemudian dia hanya menjawab “sedih”. Basa basi kamu bertanya lagi “sedih kenapa?” dan hanya satu kata yang terlontar dari mulutnya “gatau”. Tidak tahu adalah jawaban andalan seseorang yang kebingungan mendeskripsikan perasaannya. Berdasarkan pengalaman dan browsing-browsing di internet, orang yang tiba-tiba sedih tanpa tahu latar belakang yang membuat ia sedih itu bisa dibilang bahwa dia sedang HYPOPHRENIA. Yep, definisi Hypophrenia sendiri adalah perasaan sedih tanpa alasan. Padahal nih awalnya kamu merasa seneng eh tiba tiba hatimu merasa ngondok, nyesek, kesel, kecewa, dan bahkan sampai kamu nangis secara tiba-tiba tanpa kamu tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Biasanya sih hypophrenia hanya terjadi dalam waktu satu hari. Nah, untuk mengatasi serangan hyphophrenia ini menurut saya bisa dilakukan dengan self-healing. Memberikan waktu bersama diri sendiri merupakan cara yang tepat di saat kita sedang dalam situasi yang seperti ini. So, what’s the best kind of self-healing versi saya? Oke, let me tell you dan semoga kamu setuju ya.
Self-healing yang pertama adalah menemui alam semesta such as naik gunung, ke pantai, ke kebun teh, atau kemanapun itu yang bisa menghantarkan matamu untuk melihat lukisan terbaik Tuhan Yang Maha Esa. Semua itu bakalan membuatmu tersadar bahwa kamu tidak selayaknya merasa sedih karena diluar ada begitu banyak kebahagiaan yang sudah Tuhan buatkan untuk umatnya. Jadi kalau kamu terus-terusan sedih, biar apa?
Self-healing yang kedua adalah dengan menulis. Menulis segala perasaan yang sedang kamu rasakan dalam secarik kertas dapat digunakan sebagai metode terapi loh. Tulis aja semuanya tanpa harus memperhatikan susunan kata atau bagus tidaknya tulisanmu. Dengan menulis, sedikit beban perasaan dalam hati akan terbuang sehingga kamu bisa merasa lega.
Kalau ada menulis pastinya ada membaca. Yep, membaca juga bisa menjadi self-healing. Menurutku, dengan membaca kamu bisa bertualang tanpa harus beranjak dari tempat tidurmu. Jika kamu rajin menulis buku harian dan suatu ketika kamu membacanya kembali, pasti juga akan bisa menjadi self awareness. “Oh dulu ternyata aku pernah sedih gara-gara ini ini ini dan sekarang aku nggak boleh lagi kayak gitu, aku harus gini gini gini, aku nggak mau melakukan kesalahan yang sama lagi” inner self talk pun bergeming seperti itu. Membaca buku juga bisa menjadi ajang pelampiasan rasa malas. Rasa malas yang positif. Buku juga bisa menyelamatkanmu dari rasa sepi di keramaian.
Kalau kamu punya duit lebih gunakanlah untuk jajan. Jajanlah sebanyak yang kamu mau dan jangan takut gendut. Nanti kalau perut udah kenyang mood juga akan baik kembali kok. Soalnya kalau lagi laper biasanya orang suka marah-marah sendiri kan yaa karena hungry itu temenan sama angry toh wkwk. Selain buat jajan, pakailah duitmu buat pergi ke bioskop. Tontonlah film yang emang pengen kamu tonton. Nggak usah sama temen, sama diri kamu sendiri aja, karena terkadang kalau sama temen itu ribet harus nyatuin keinginanmu sama keinginan dia alhasil terlahirlah wacana.
Tidur. Ini adalah self-healing bagi orang-orang yang nggak mau ribet dan ingin segera melupakan kesedihannya. Emang bener banget sih, ini mujarab banget kalau kamu lagi sedih terus kamu tidur dan pas bangun, kamu udah lupa sama kesedihanmu dan semua masalahmu. Namun, sebelnya sih kalau kita enggak merasa ngantuk jadinya mata mau diajak merem pun susah, yhaa thoo?
Oke, terlepas dari self-healing yang udah aku sebutin, sebaik-baiknya self-healing adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah. Sholat 5 waktu, sholat sunnah, baca Qur’an, dan berdzikir secara istiqomah pasti bisa menimbulkan ketenangan tersendiri dalam hati kita. Namun, kenapa ya untuk ngelakuin itu secara istiqomah kok susah banget. Aku selalu iri pada mereka yang bisa mendapat hidayah karena keistiqomahannya dalam mendekatkan diri dengan Allah and I’ve to try so hard to be like them.
So gais, itulah sedikit pendapatku mengenai hypophrenia dan self healing. Oh iya, jangan samakan hypophrenia dengan gangguan psikologis seperti bipolar ya. Karena gangguan psikologis itu memiliki gejala-gejala yang tentunya banyak. Kita tidak bisa melabel seseorang terkena gangguan psikologis hanya karena mengalami satu atau dua gejala dari gangguan tersebut. Bukan bermaksud untuk sok tahu tapi selagi negara kita masih memberikan hak untuk mengeluarkan pendapat, nggak masalah kan ya?

Done. I've read all of those posts. Such a great post. Very interesting and inspiring. Keep writing, spread all of magical words inside your mind.
BalasHapusThank youuu !! :)
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus