![]() |
| Sumber gambar : pinterest |
Tentunya
tidak karena semua tetap bergantung pada orang tua. Anak yang mengenyam
pendidikan di sekolah yang memungut biaya tinggi, ternyata tidak semuanya dapat
menunjukkan prestasi belajar dan perilaku yang baik. Beberapa orang tua yang
rata-rata penghasilannya menengah ke atas kurang dapat memberikan perhatian penuh
kepada anak karena terlalu disibukkan oleh pekerjaan mereka yang banyak memakan
waktu di kantor dibandingkan di rumah. Hal ini berdampak pada kurangnya waktu
bersama dengan anak. Padahal di usia sekolah, anak sangat membutuhkan pendampingan
dari orang tua. Walaupun orang tua sudah menyekolahkan anak di sekolah yang
favorit namun tidak seharusnya mereka menyerahkan begitu saja urusan pendidikan
kepada pihak sekolah. Bagus atau tidaknya prestasi anak bukan sepenuhnya
dilihat dari segi kualitas sekolah melainkan juga dari pola asuh orang tua.
Orang
tua yang terlalu mengabaikan anak dapat membuat anak merasa tidak penting di dalam
keluarganya sendiri. Alhasil, ketika anak melakukan sesuatu hal yang negatif
pun ia tidak akan merasa takut karena tidak ada yang menyalahkan. Apabila
dibiarkan terus menerus maka akan menjadi suatu kebiasaan yang pada akhirnya
sulit untuk diubah. Contohnya saja gadget. Anak kecil generasi Z sekarang ini banyak yang
sudah mempunyai ponsel pribadi. Padahal idealnya anak dikenalkan dengan ponsel
setelah mereka masuk ke jenjang sekolah menengah pertama karena pada usia
tersebut anak sudah dapat berpikir dengan konkrit dalam memilah hal-hal yang
baik dan buruk untuk dirinya.
Penggunaan
gadget yang terus-menerus membuat anak malas belajar dan tentunya membuat waktu
tidur berkurang. Hal ini dapat memicu rasa kantuk dan lelah ketika esok paginya
di sekolah sehingga anak kurang bisa memproses materi yang telah diberikan oleh
guru. Kurangnya perhatian orang tua dan tidak membatasi penggunaan gadget
membuat anak mengalami hambatan dalam berinteraksi sosial. Anak akan cenderung pendiam dan menutup diri dari
lingkungan di sekitarnya. Apabila orang tua tidak menstimulasi kemampuan anak
dalam berkomunikasi maka anak cenderung pasif ketika di kelas. Hal itu membuat
anak menjadi kurang percaya diri terhadap kemampuan untuk meraih juara di kelas.
Siapa yang dirugikan kalau sudah begini? Tentu tidak hanya anak melainkan juga orang
tua. Kesibukan bekerja membuat mereka lalai akan tanggung jawab dalam mendidik
anak. Mengikutsertakan anak ke dalam sebuah bimbingan belajar atau les memang
bisa menjadi solusi jika orang tua sibuk dan merasa kesulitan untuk mengajari
anak. Namun tetap saja orang tua harus ikut mendampingi anak ketika belajar.
Sebagai
seorang pendidik, sudah sepantasnya orang tua menunaikan kewajiban tersebut
demi kebahagiaan anaknya. Sesibuk apa pun orang tua bekerja, seharusnya mereka
tetap bisa meluangkan waktu bersama dengan anaknya, misalnya saja sepulang
kerja dengan menemani belajar. Dengan cara memperhatikan pola belajar dan
mengerti kesulitan apa saja yang didapatkan anak ketika belajar maka orang tua diharapkan
segera mencarikan solusinya. Adanya
pendampingan dari orang tua akan membuat anak merasa percaya diri karena ia
tidak merasa kesepian dan selalu mendapat dukungan dari orang tua. Dalam
mendampingi anak belajar maupun bermain, orang tua hendaknya mengetahui bakat
yang dimiliki anak sehingga dapat membantu anak untuk mengembangkan bakat
tersebut. Bakat yang terus dikembangkan dapat membuat anak menjadi percaya diri
bahwa dalam dirinya terdapat kemampuan yang pantas untuk ditunjukkan kepada
orang lain dan layak untuk diapresiasi. Di samping itu, secara psikologis, anak
yang didampingi orang tua ketika belajar akan membawa hasil yang baik terhadap
prestasinya di sekolah.
Selain
mendampingi belajar, orang tua juga wajib mengawasi anak ketika ia bermain
gadget dan mengarahkannya ke hal-hal
yang positif, seperti untuk mencari materi belajar atau menggunakan permainan
edukasi sehingga anak tidak merasa bosan. Namun, penggunaan gadget tetap harus
dibatasi. Misalnya 2 jam sehari ketika sore hari atau hanya ketika akhir pekan
saja. Hal ini untuk menghindari kecanduan gadget pada anak. Akan lebih baik
lagi jika orang tua mengalihkan perhatian anak ke buku bacaan yang disukai oleh
anak. Ajak anak ke toko buku dan membiarkannya memilih buku bacaan yang dia
suka.. Jadi, dengan memilih buku yang sesuai dengan seleranya, minat baca dapat
tumbuh dengan sendirinya.
Menjalin
komunikasi dengan anak secara intensif juga diperlukan untuk membangun
kehangatan di dalam kelurga. Misalnya saja ketika waktu sarapan bersama, orang
tua dapat menanyakan keseharian anak ketika di sekolah, hubungan anak bersama
dengan temannya, kesulitan belajar di kelas, dan masalah lain yang sedang anak
hadapi, hendaknya orang tua mengetahui. Hal semacam ini bertujuan untuk menumbuhkan
sikap terbuka dan melatih untuk menyampaikan pendapat, sehingga ketika di kelas
anak tidak malu untuk bertanya kepada guru jika ia tidak paham apa yang
dijelaskan. Kemudian orang tua dapat meluangkan waktu minimal saat akhir pekan
untuk dihabiskan bersama dengan anak agar kedekatan di antara mereka akan
semakin terbangun. Mengajak anak ke tempat rekreasi yang mengandung unsur ilmu
pengetahuan juga dapat menumbuhkan kecintaan anak terhadap dunia pendidikan
sehingga anak akan semakin giat untuk belajar.
Membangun
komunikasi dengan guru juga dibutuhkan karena untuk mengetahui perkembangan
anak maupun hambatan-hambatan yang dihadapi anak ketika di sekolah. Melakukan
konsultasi dengan guru untuk menentukan intervensi dalam menangani permasalahan
anak juga merupakan hal yang tepat.
Kesuksesan
anak dalam dunia pendidikan tidak sepenuhnya ditentukan oleh mahalnya biaya sekolah
melainkan dari keluarga, terutama orang tua. Pola asuh orang tua menjadi kunci
keberhasilan seorang anak dalam berprestasi. Sebagai seorang pendidik, orang
tua perlu memiliki bekal dalam mengarahkan anak ke hal-hal yang positif. Apalagi
di era digital seperti sekarang ini, informasi dapat diperoleh dengan cepat. Orang
tua dapat memanfaatkannya untuk mencari referensi-referensi dalam menjadi
seorang pendidik. Seperti yang termuat pada link berikut ini https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4832.
Menjadi orang tua dengan penghasilan
tinggi memang merupakan salah satu family
goals. Namun, bukan berarti orang
tua menjadi lalai begitu saja dengan tugasnya sebagai pendidik anak. Orang tua
harus pintar membagi waktunya dengan baik, antara bekerja dan keluarga. Karena
ketika di rumah, anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang-orang
terdekatnya. Anak perlu didampingi dan dirangkul untuk dapat mencapai impiannya
#sahabatkeluarga.

Two thumbs up for you. Semoga kelak bisa menjadi orang tua yang baik 😉😉😉
BalasHapus