Langsung ke konten utama

Orang tua Sibuk Bekerja, Bagaimana Nasib Pendidikan Anak?



Sumber gambar : pinterest 
Keluarga merupakan sebuah lembaga pendidikan yang pertama untuk anak. Sebagai seorang pendidik, orang tua tentunya memiliki peran yang begitu besar dalam dunia pendidikan anak.  Namun, seiring dengan perkembangan zaman, terutama pada ibu di era milenial ini banyak yang lebih memilih untuk bekerja dibandingkan menjadi ibu rumah tangga. Setelah bekerja dan memperoleh pendapatan yang tinggi membuat orang tua ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang berkualitas, baik itu dari segi kurikulum, pengajar, media pembelajaran, maupun fasilitas. Namun, apakah dengan menyekolahkan anak di sekolah yang mahal dapat menjamin kesuksesan anak di kemudian hari?

Tentunya tidak karena semua tetap bergantung pada orang tua. Anak yang mengenyam pendidikan di sekolah yang memungut biaya tinggi, ternyata tidak semuanya dapat menunjukkan prestasi belajar dan perilaku yang baik. Beberapa orang tua yang rata-rata penghasilannya menengah ke atas kurang dapat memberikan perhatian penuh kepada anak karena terlalu disibukkan oleh pekerjaan mereka yang banyak memakan waktu di kantor dibandingkan di rumah. Hal ini berdampak pada kurangnya waktu bersama dengan anak. Padahal di usia sekolah, anak sangat membutuhkan pendampingan dari orang tua. Walaupun orang tua sudah menyekolahkan anak di sekolah yang favorit namun tidak seharusnya mereka menyerahkan begitu saja urusan pendidikan kepada pihak sekolah. Bagus atau tidaknya prestasi anak bukan sepenuhnya dilihat dari segi kualitas sekolah melainkan juga dari pola asuh orang tua.

Orang tua yang terlalu mengabaikan anak dapat membuat anak merasa tidak penting di dalam keluarganya sendiri. Alhasil, ketika anak melakukan sesuatu hal yang negatif pun ia tidak akan merasa takut karena tidak ada yang menyalahkan. Apabila dibiarkan terus menerus maka akan menjadi suatu kebiasaan yang pada akhirnya sulit untuk diubah. Contohnya saja gadget.  Anak kecil generasi Z sekarang ini banyak yang sudah mempunyai ponsel pribadi. Padahal idealnya anak dikenalkan dengan ponsel setelah mereka masuk ke jenjang sekolah menengah pertama karena pada usia tersebut anak sudah dapat berpikir dengan konkrit dalam memilah hal-hal yang baik dan buruk untuk dirinya.

Penggunaan gadget yang terus-menerus membuat anak malas belajar dan tentunya membuat waktu tidur berkurang. Hal ini dapat memicu rasa kantuk dan lelah ketika esok paginya di sekolah sehingga anak kurang bisa memproses materi yang telah diberikan oleh guru. Kurangnya perhatian orang tua dan tidak membatasi penggunaan gadget membuat anak mengalami hambatan dalam berinteraksi sosial. Anak akan cenderung pendiam dan menutup diri dari lingkungan di sekitarnya. Apabila orang tua tidak menstimulasi kemampuan anak dalam berkomunikasi maka anak cenderung pasif ketika di kelas. Hal itu membuat anak menjadi kurang percaya diri terhadap kemampuan untuk meraih juara di kelas. Siapa yang dirugikan kalau sudah begini? Tentu tidak hanya anak melainkan juga orang tua. Kesibukan bekerja membuat mereka lalai akan tanggung jawab dalam mendidik anak. Mengikutsertakan anak ke dalam sebuah bimbingan belajar atau les memang bisa menjadi solusi jika orang tua sibuk dan merasa kesulitan untuk mengajari anak. Namun tetap saja orang tua harus ikut mendampingi anak ketika belajar.

Sebagai seorang pendidik, sudah sepantasnya orang tua menunaikan kewajiban tersebut demi kebahagiaan anaknya. Sesibuk apa pun orang tua bekerja, seharusnya mereka tetap bisa meluangkan waktu bersama dengan anaknya, misalnya saja sepulang kerja dengan menemani belajar. Dengan cara memperhatikan pola belajar dan mengerti kesulitan apa saja yang didapatkan anak ketika belajar maka orang tua diharapkan segera mencarikan solusinya.  Adanya pendampingan dari orang tua akan membuat anak merasa percaya diri karena ia tidak merasa kesepian dan selalu mendapat dukungan dari orang tua. Dalam mendampingi anak belajar maupun bermain, orang tua hendaknya mengetahui bakat yang dimiliki anak sehingga dapat membantu anak untuk mengembangkan bakat tersebut. Bakat yang terus dikembangkan dapat membuat anak menjadi percaya diri bahwa dalam dirinya terdapat kemampuan yang pantas untuk ditunjukkan kepada orang lain dan layak untuk diapresiasi. Di samping itu, secara psikologis, anak yang didampingi orang tua ketika belajar akan membawa hasil yang baik terhadap prestasinya di sekolah.

Selain mendampingi belajar, orang tua juga wajib mengawasi anak ketika ia bermain gadget dan  mengarahkannya ke hal-hal yang positif, seperti untuk mencari materi belajar atau menggunakan permainan edukasi sehingga anak tidak merasa bosan. Namun, penggunaan gadget tetap harus dibatasi. Misalnya 2 jam sehari ketika sore hari atau hanya ketika akhir pekan saja. Hal ini untuk menghindari kecanduan gadget pada anak. Akan lebih baik lagi jika orang tua mengalihkan perhatian anak ke buku bacaan yang disukai oleh anak. Ajak anak ke toko buku dan membiarkannya memilih buku bacaan yang dia suka.. Jadi, dengan memilih buku yang sesuai dengan seleranya, minat baca dapat tumbuh dengan sendirinya.

Menjalin komunikasi dengan anak secara intensif juga diperlukan untuk membangun kehangatan di dalam kelurga. Misalnya saja ketika waktu sarapan bersama, orang tua dapat menanyakan keseharian anak ketika di sekolah, hubungan anak bersama dengan temannya, kesulitan belajar di kelas, dan masalah lain yang sedang anak hadapi, hendaknya orang tua mengetahui. Hal semacam ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap terbuka dan melatih untuk menyampaikan pendapat, sehingga ketika di kelas anak tidak malu untuk bertanya kepada guru jika ia tidak paham apa yang dijelaskan. Kemudian orang tua dapat meluangkan waktu minimal saat akhir pekan untuk dihabiskan bersama dengan anak agar kedekatan di antara mereka akan semakin terbangun. Mengajak anak ke tempat rekreasi yang mengandung unsur ilmu pengetahuan juga dapat menumbuhkan kecintaan anak terhadap dunia pendidikan sehingga anak akan semakin giat untuk belajar.

Membangun komunikasi dengan guru juga dibutuhkan karena untuk mengetahui perkembangan anak maupun hambatan-hambatan yang dihadapi anak ketika di sekolah. Melakukan konsultasi dengan guru untuk menentukan intervensi dalam menangani permasalahan anak juga merupakan hal yang tepat.

Kesuksesan anak dalam dunia pendidikan tidak sepenuhnya ditentukan oleh mahalnya biaya sekolah melainkan dari keluarga, terutama orang tua. Pola asuh orang tua menjadi kunci keberhasilan seorang anak dalam berprestasi. Sebagai seorang pendidik, orang tua perlu memiliki bekal dalam mengarahkan anak ke hal-hal yang positif. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, informasi dapat diperoleh dengan cepat. Orang tua dapat memanfaatkannya untuk mencari referensi-referensi dalam menjadi seorang pendidik. Seperti yang termuat pada link berikut ini  https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4832. Menjadi  orang tua dengan penghasilan tinggi memang merupakan salah satu family goals.  Namun, bukan berarti orang tua menjadi lalai begitu saja dengan tugasnya sebagai pendidik anak. Orang tua harus pintar membagi waktunya dengan baik, antara bekerja dan keluarga. Karena ketika di rumah, anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Anak perlu didampingi dan dirangkul untuk dapat mencapai impiannya #sahabatkeluarga.

Komentar

  1. Two thumbs up for you. Semoga kelak bisa menjadi orang tua yang baik 😉😉😉

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Tom-Tomen" merupakan sesuatu yang wajar kan?

Tulisan ini dibuat setelah beberapa minggu yang lalu aku kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang dulu ketika aku masih sekolah dasar, pernah mengantarku berangkat sekolah menggunakan payung karena saat itu hujan deras sedang mengguyur. Kami  menyusuri jalanan menuju sekolah dengan  jalan kaki berdua. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegangi payung yang dia arahkan diatas kepalaku supaya aku tidak kehujanan sedangkan tubuhnya hanya terlindungi sebagian saja dari payung sehingga baju dibagian punggungnya terkena hujan namun ia tidak begitu menghiraukannya. Lantas  tangan kirinya memegang erat tanganku  supaya aku tidak terpeleset karena jalanan licin.  Ketika terima rapor atau rapat orang tua siswa  dia yang selalu datang ke sekolah dengan membawa sepeda onthel. Selalu begitu, kemana-mana naik sepeda onthel, karena fisiknya masih kuat dan terkadang aku diboncengnya ke sekolah atau pergi ke suatu tempat. Namun, dulu aku ha...

Book Review - The Little Handbook For Big Career

  Pada postingan ini, saya akan memberikan ulasan buku "The Little Handbook For Big Career" yang ditulis oleh Ibu Riffa Sancati, seorang Founder dan CEO   The Lens Story . Buku #thelittlehandbook banyak membantu saya untuk menemukan versi terbaik dalam diri saya untuk dapat membangun karier yang saya inginkan. Dalam buku ini, Ibu Riffa menyadarkan saya bahwa dari hal-hal kecil yang bahkan terkadang saya anggap sepele, ternyata itu bisa mendatangkan manfaat besar dalam hidup saya.    Buku ini terdiri dari 10 bab yang bahasannya sangat komplit mulai dari masa-masa sebelum terjun ke dunia kerja, bagaimana untuk meraih sukses dalam pekerjaan kita, hingga bagaimana memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Banyak insight yang saya dapatkan dari buku ini, beberapa diantaranya yaitu mengenai passion, mindset, investment, dan resilience.   Di bagian awal buku ini membahas mengenai passion .Ibu Riffa menjelaskan dengan sangat apik tentang bagaimana pengaruh passion d...

HYPOPHRENIA

Suatu ketika, kamu melihat teman kamu nampak begitu murung,  tidak seperti biasanya. Lantas kamu bertanya kepada dia  karena penasaran “Kamu kenapa?” kemudian dia hanya menjawab “sedih”. Basa basi kamu bertanya lagi “sedih kenapa?” dan hanya satu kata yang terlontar dari mulutnya “gatau”. Tidak tahu adalah jawaban andalan seseorang yang kebingungan mendeskripsikan perasaannya. Berdasarkan pengalaman dan browsing-browsing di internet, orang yang tiba-tiba sedih tanpa tahu latar belakang yang membuat ia sedih itu bisa dibilang bahwa dia sedang HYPOPHRENIA. Yep, definisi Hypophrenia sendiri adalah perasaan sedih tanpa alasan. Padahal nih awalnya kamu merasa seneng eh tiba tiba hatimu merasa ngondok, nyesek, kesel, kecewa, dan bahkan sampai kamu nangis secara tiba-tiba tanpa kamu tahu mengapa hal itu bisa terjadi.  Biasanya sih hypophrenia hanya terjadi dalam waktu satu hari. Nah, untuk mengatasi serangan hyphophrenia ini menurut saya bisa dilakukan dengan self-healing. Me...