Kepada jarak
Terima kasih telah menghukumku dengan sebuah kerinduan
Kata orang, rindu itu membuat air mata tak henti untuk jatuh
Rindu membuat otak tidak henti untuk berpikir
Dan lebih kejamnya, rindu membuat seseorang membenci orang lain
Tapi lihatlah, pada rindu yang tak pernah bersua dengan pemiliknya
Sekarang telah usang, menjamur dan bahkan membusuk
Apakah masih pantas untuk bersua?
Kepada rasa sepi
Terima kasih telah menghadirkan sebuah ketenangan
Ketenangan ini mengantarkanku pada sebuah kenyamanan
Kenyamanan membuatku menemukan arti dari sebuah kesendirian
Kesendirian tidak selamanya membuat seseorang terpuruk
Karena waktu bersama “aku” tidak akan mempertemukan pada sebuah rasa kecewa
Dibandingkan waktu bersama orang dengan “persona” yang ia kenakan
Kepada senja
Terima kasih telah mengajarkan arti dari sebuah kehilangan
Bahwa semua yang datang pada akhirnya akan pergi
Termasuk senja dengan warna jingga yang memanjakan mata
Tetap tega menenggelamkan diri disaat aku masih ingin melihatnya
Senja sama halnya dengan manusia
Ia hadir untuk menyapa
Dan Ia ada untuk menemani
Tapi semua itu seperti halnya kedipan mata
Sekejap lalu sudah
Tak perlu untuk ditangisi
Esok, lusa, masih akan ada senja dengan berbagai warna yang ia miliki
Dan yang terakhir
Terima kasih kepada waktu
Yang telah menyembuhkan segalanya
Waktu dapat membawa kita pada perubahan
Tergantung bagaimana kita memperlakukannya
Dan kini..
Tidak ada lagi rindu yang usang, menjamur dan membusuk
Tidak ada lagi kebencian atas rasa sepi
Dan tidak ada lagi alasan untuk tidak mengagumi senja
Terima kasih pada setiap detak jantung jam dinding
Yang selalu mengingatkanku bahwa
Waktu bukan teman untuk berdiam diri
Waktu bukan tempat untuk menunggu
Tapi waktu adalah kesempatan untuk berlari.

Komentar
Posting Komentar